“Ikuti saja kata hatimu.”
Ini adalah nasihat yang diberikan kepada saya oleh seorang saudara seiman yang bermaksud baik yang mengamati kesusahan saya atas keputusan yang harus saya ambil ...
Saya mengikuti nasihat teman ini dan hasilnya … sangatlah buruk. Tetapi bukan hasilnya yang ingin saya fokuskan di sini, melainkan nasihat buruk yang dia berikan: “ikuti saja kata hatimu.” Kita mungkin mengatakannya dengan cara yang berbeda, tetapi pada akhirnya, kebanyakan orang mengatakan hal yang sama: percayalah pada kata hatimu.
Ada kelemahan fatal dalam nasihat ini. Hati kita tidak adil. Hati kita selalu pasti mendukung kita. Seperti yang dinyatakan dalam Amsal 16:2
Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri,
tetapi TUHANlah yang menguji hati.
Tidak peduli situasinya, kita akan berakhir sepenuhnya dibenarkan dalam hati kita. Tidak akan butuh waktu lama bagi kita untuk membenarkan kemarahan, kepahitan, balas dendam, depresi, keegoisan, kekejaman, atau perasaan lain yang sangat kita yakini pantas kita rasakan.
Dan tidak heran kita selalu menganggap diri kita benar, sebab perbuatan kita "bersih" bagi kita.
Namun, Tuhan adalah hakim yang adil dan Tuhan mengukur motivasi hati kita dengan timbangan yang sempurna ukurannya. Hati-Nya murni; hati kita menipu. Hati-Nya adil; hati kita selalu berat sebelah. Hati-Nya kudus; hati kita penuh lubang.
“Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu?” Yakobus menulis dalam Yakobus 4:1-3, “Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.
Dengan kata lain: sebagian besar penderitaan kita disebabkan oleh diri kita sendiri. Mengapa? Kita mengikuti apa yang teman saya, yang bermaksud baik itu, nasihatkan: “ikuti saja kata hatimu.”
Saya ingatkan, berdasarkan firman Tuhan: jangan ikuti hatimu! Hatimu akan berbohong kepadamu.
Sebaliknya, belajarlah untuk mempercayai hati Tuhan kita. Berikut beberapa hal penting yang bisa saya bagikan:
- Bacalah Alkitab setiap hari, setidaknya satu pasal setiap hari, atau bisa mengikuti Bacaan Setahun yang ada di renungan harian kita.
- Berdoalah setiap hari. Tidak apa-apa untuk mengakui bahwa kita kurang bijaksana kepada Tuhan yang pasti sudah mengetahuinya.
- Berserah diri setiap hari. Sadari bahwa hati kita akan membenarkan kita di mata kita sendiri. Biasakanlah berserah diri pada jalan yang tampaknya bertentangan dengan apa yang kita rasakan. Bahkan berserah diri pun terkadang terasa tidak "benar".
Dan—tolong—apa pun yang kita lakukan, jangan pernah (sekali pun!) menyuruh seseorang untuk "mengikuti hati mereka". Kecuali, tentu saja, jika kita ingin bencana menimpa mereka. Dan hal ini tentunya, akan membuat kita menghadapi masalah lain lagi.
- Pdt. Riwu Agustinus Huru -