Membaca Firman
Mazmur 126:5-6
Bacaan Setahun:
Keluaran 18-20
Merenungkan Firman
Kita sering berasumsi bahwa ketaatan yang benar seharusnya terasa ringan dan penuh sukacita. Tetapi ada ketaatan yang justru dilakukan sambil menangis. Ini bukan karena kurang kita iman, tetapi karena realitas hidup memang berat. Air mata bukan tanda kegagalan rohani; sering kali ia adalah harga dari kesetiaan. “Menuai dengan sorak-sorai” tidak selalu berarti pemulihan yang cepat atau sesuai harapan pribadi, tetapi kepastian bahwa jerih payah yang setia tidak sia-sia di hadapan Allah. Menabur tetap harus dilakukan meski hati terluka. Banyak kegagalan terjadi bukan karena tanah yang buruk, tetapi karena benih tidak pernah ditabur. Kadang kita berhenti menabur karena air mata. Mazmur ini memanggil kita untuk melampaui perasaan sakit itu.
Mengaplikasi dan Membagi Rhema Firman